Blogger Widgets sitimaimunaPGSD: makalah asesmen

Jumat, 20 Juni 2014

makalah asesmen





TUGAS ASESEMEN
“PENGERTIAN DAN JENIS TES”
Dosen Pengampu:
Rini Sofiyanti S.Pd
Di Susun Oleh:

Siti Maimuna (201210285)






PROGRAM S1 FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ABDURACHMAN SALEH
SITUBONDO




KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kita selalu panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua sehingga penyusunan makalah dengan judul PENGERTIAN DAN JENIS ASESMEN SEBAGAI INSTRUMEN ASESMEN dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam selalu kita kirimkan kepada panutan dan tauladan hidup kita, yakni nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa hidup kita ini dari zaman kegelapan ke zaman terang-benderang.
Dalam penyusunan makalah ini. kami tidak dapat menyelesaikan makalah ini tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih kepada Dosen mata kuliah ASESMEN PEMBELAJARAN SD dan teman-teman yang telah mendukung pembuatan makalah ini.
Sungguh merupakan suatu kebanggaan dari kami apabila makalah ini dapat terpakai sesuai fungsinya, dan pembacanya dapat mengerti dengan jelas apa yang dibahas didalamnya. Tidak lupa juga penulis menerima kritikan dan saran yang membangun, yang sangat diharapkan demi memperbaiki pembuatan makalah di kemudian hari.


Situbondo,27 Oktober 2013


Penulis




i
DAFTAR ISI
          KATA PENGANTAR…………………………………………………………….….i
         DAFTARISI……….……………………………...………….………………..……..ii
BAB 1
             PENDAHULUAN………………………………………………………………....1
             1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………………………...1
             1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………….1
             1.3 Tujuan Masalah……………………………………………………………….1
BAB II
            PEMBAHASAN…………………………………………………………………...2
            2.1  Pengertian Tes………………………………………………………………...2
      2.2  Jenis-jenis Tes……………………………………......……..……..……………...4
BAB III
     PENUTUP…………………………………………………………....……….…….…10
            3.1 KESIMPULAN………………………………………………………………10

DAFTARPUSTAKA…...………………………………………………......………….….11







ii



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Setelah kita mengetahui hakekat tes, yaitu  sebagai alat ukur, perlu kiranya kita membahas jenis-jenis tes. Perlu kita bersama mengetahui bahwa para ahli dalam bidang tes tidak semuanya seragam dalam mengklasifikasikan tes. Heaton (1988), misalnya, membagi jenis tes menjadi 4 bagian utama, yaitu: (1) tes hasil belajar (achievement test), (2) tes penguasaan (proficiency test), (3) tes bakat (aptitude test), dan(4) tes diagnostik (diagnostic test). Sementara itu, Brown (2004) melengkapi satu lagi jenis  tes terhadap penggolongan yang telah dilakukan oleh Heaton, yaitu tes penempatan (placement test). Nampaknya, penggolongan jenis tes tersebut hanya mengacu kepada satu kriteria saja yaitu tujuan penyelenggaraan tes.  Saudara diajak untuk mencermati pembagian jenis-jenis tes. Pembagian yang ia tawarkan nampak lebih luas dan rinci dengan mengacu pada sejumlah criteria. Kriteria yang dapat digunakan untuk membedakan jenis tes meliputi: 1) tujuan penyelenggaraan, 2) tahapan/waktu penyelenggaraan, 3) cara mengerjakan, 4) cara menyusun, 5)  bentuk jawaban, 6) cara penilaian, dan 7) acuan penilaian. Uraian tentang  jenis tes berikut dilengkapi dengan uraian mengenai arti, cakupan,ciri-ciri serta contohnya

1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang ingin diajukan penulis dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian tes?
2.      Apa saja jenis-jenis tes sebagai instrument asesmen?

1.3 Tujuan Masalah
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian tes.
2.      Untuk mengetahui dan memahami jenis tes sebagai instrument asesmen.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Tes
Tes secara sederhana dapat  diartikan sebagai  himpunan pertanyaan yang harus dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur  suatu aspek tertentu dari peserta tes. Dalam kaitan dengan pembelajaran aspek tersebut adalah indikator pencapaian kompetensi.  Tes berasal dari bahasa Perancis yaitu  “testum”  yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia dari material lain seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Kemudian diadopsi dalam psikologi dan pendidikan untuk menjelaskan sebuah  instrumen yang dikembangkan untuk dapat melihat dan
mengukur dan menemukan peserta Tes  yang memenuhi kriteria tertentu. Cronbach (dalam Azwar, 2005) mendefinisikan tes sebagai “a systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or category system”. Menurut Ebster’s Collegiate (dalam Arikunto, 1995), tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dari dua definisi tersebut dan uraian lebih jauh tentang itu  dapat ditarik  pengertian bahwa: (1) tes adalah prosedur pengukuran yang sengaja dirancang secara sistematis, untuk mengukur atribut tertentu, dilakukan  dengan proseduradministrasi dan pemberian angka yang jelas dan spesifik, sehingga hasilnya relatif ajeg bila dilakukan dalam kondisi yang relatif sama;  (2)  tes  pada umumnya berisi sampel perilaku,  cakupan  butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya, yang secara keseluruhan mungkin mustahil dapat tercakup dalam tes, sehingga tes harus  dapat mewakili kawasan (domain) perilaku yang diukur, untuk itu perlu pembatasan yang jelas; (3) tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari dengan cara menjawab atau mengerjakan tugas  dalam tes. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes, karena tes memang  mengukur perilaku, sebagai manifestasi  atribut psikologis yang mau diukur.
Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku tertentu. Dalam psikologi, tes dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:



(1) tes yang mengukur intelegensia umum yang dirancang untuk mengukur kemampuan umum seseorang dalam suatu tugas; (2) tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat yang dibuat untuk mengungkap kemampuan potensial dalam bidang tertentu; (3) tes yang ditujukan untuk mengukur prestasi yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan aktual sebagai hasil belajar; (4) tes yang mengungkap aspek kepribadian (personality assesment) yang bertujuan mengungkap karakteristik individual subjek dalam aspek yang diukur. Dengan melihat penggolongan di atas, tes  dalam pembelajaran di kelas yang menjadi pembahasan ini adalah tes prestasi atau hasil belajar. Tes sebagai alat ukur dapat menyediakan informasi-informasi obyektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan  yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar yang dilakukan siswa dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu:
a.  Keputusan yang diambil pada pemulaan proses pembelajaran
Penggunaan tes sebagai dasar pengambilan keputusan pada permulaan proses pembelajaran bermuara pada dua pertanyaan yang harus dijawab oleh pendidik sebelum memulai proses pembelajaran yaitu; (1) sejauh manakah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran yang berupa kemampuan awal yang diperlukan untuk mengikuti proses pembelajaran, (2) sejauh manakah kemampuan dan keterampilan yang telah dicapai peserta didik terhadap pembelajaran yang direncanakan. Keduanya akan menentukan keputusan guru dalam merancang materi dan metode pembelajaran yang direncanakan.
b.  Keputusan selama proses pembelajaran
Tes dapat pula digunakan selama proses pembelajaran (tes formatif). Tes formatif dapat diberikan baik dalam bentuk tes tulis maupun tes lisan, baik dengan jawaban uraian maupun tes obyektif.
c.  Keputusan-keputusan pada akhir pembelajaran
Tes formatif yang diberikan guru pada  akhir pembelajaran ditujukan untuk mengetahui apakah kompetensi dasar yang dirumuskan dalam program pembelajaran (satuan pembelajaran) telah tercapai atau belum. Jadi, fungsi tes pada akhir pembelajaran adalah untuk mengukur daya serap siswa pada materi pembelajaran. Sehingga guru dapat merencanakan tindak lanjut terhadap rencana, proses, media, metode, dan suasana pembelajaran. Seperti penilaian selama proses keputusan akhir pembelajaran dapat berasal dari informasi tes obyektif atau tes subyektif.
2.2  Jenis-jenis Tes

Bila kita membahas jenis-jenis tes, Anda akan dapat mencermati dalam lima jenis atau cara pembagian yaitu:
1.      Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan.
2.      Jenis tes berdasarkan waktu penyelenggaraan.
3.      Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan.
4.      Pembagian jenis tes berdasarkan cara penyusunan.
5.      Pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawaban.
Uraian selengkapnya adalah sebagai berikut:
1)  Jenis Tes Berdasarkan Tujuan Penyelenggaraan
a) Tes Seleksi (Selection Test)
Anda bisa memahami hakekat dari tes seleksi ini dari arti kata “seleksi” itu sendiri, yaitu memilih. sederhana bukan? Jadi, tes seleksi  diselenggarakan untuk memilih peserta  guna diikut sertakan dalam  kegiatan yang menuntut kemampuan tertentu. Penentuan jenis kemampuan dan tingkat penguasaan  pada tes seleksi, sepenuhnya tergantung pada kebutuhan akan kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat mengikuti kegiatan.  Dengan demikian,  berdasarkan hasil tes seleksi, seseorang dapat dinyatakan diterima atau berhasil dan tidak diterima atau tidak lolos untuk mengikuti program kegiatan yang direncanakan. Sebagai contoh, jika kita menyelenggarakan tes seleksi untuk pemandu wisata, maka akan lebih baik menitikberatkan  kemampuan berbicara dari pada kemampuan menulis.
b) Tes Penempatan (Placement Test)
adalah  suatu keniscayaan bahwa kemampuan seseorang tidaklah bisa sama. Sekelompok orang barangkali memiliki kemampuan lebih tinggi dari pada kelompok lainnya. Permasalahan yang muncul adalah,  bagaimanakah jika kemampuan siswa dalam satu kelas relatif beragam? Hal ini  akan bisa  mempersulit jalannya proses pengajaran yang Anda lakukan. Untuk itu perlu dilakukan tes penempatan. Tes penempatan umumnya diselenggarakan menjelang dimulainya suatu program pengajaran, dengan maksud untuk menempatkan seseorang pada kelompok yang sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya.



c) Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes hasil belajar  tentu tidak asing lagi. Brown (2004) memberikan pengertian tes hasil belajar merupakan “a test to see how far students achieve materials addressed in a curriculum within a particular time frame”. Hasil belajar yang diungkap lewat tes hasil belajar dapat mengacu pada hasil pengajaran secara keseluruhan pada akhir penyelenggaraan atau pada kurun waktu tertentu.  Sebagai tes yang memfokuskan pada hasil yang telah dapat dicapai oleh suatu bentuk pengajaran, tes hasil belajar memiliki kaitan yang erat dengan apa yang telah diajarkan (kurikulum). Kaitan itu terutama dalam hal isi tes. Isi tes harus secara jelas mencerminkan isi pengajaran yang secara nyata telah diselenggarakan.
d)  Tes Diagnostik (Diagnostic Test)
Secara etimologis, diagnostik  diambil dari bahasa Inggris “diagnostic”. Bentuk kata kerjanya adalah “to diagnose”,  yang artinya “to determine the nature of disease from observation of symptoms”. Mendiagnosis berarti melakukan observasi terhadap penyakit tertentu, sebagai dasar menentukan macam atau jenis penyakitnya. Jadi, tes diagnostik sengaja dirancang sebagai alat untuk menemukan kesulitan belajar yang sedang dihadapi siswa. Hasil tes diagnostik dapat digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pengajaran yang lebih sesuai dengan kemampuan siswa sebenarnya, termasuk kesulitan-kesulitan belajarnya. Tes ini dilakukan apabila diperoleh informasi bahwa sebagian besar peserta didik gagal dalam mengikuti proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Hasil tes diagnostik memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami. Oleh karenanya, tes ini berisi materi yang dirasa sulit oleh siswa, namun tingkat kesulitan tes ini cenderung rendah.
e) Tes Uji Coba
Apabila Saudara sebagai seorang guru pasti pernah mengembangkan tes. Tes yang dikembangkan belum tentu memenuhi kualifikasi sebagai  tes yang “baik” dalam arti luas. Untuk mengetahui apakah tes yang dikembangkan bagus, perlu serangkaian uji coba, untuk memperoleh informasi, tidak hanya tentang ciri-ciri tes yang penting, seperti validitas, reliabilitas, tingkat kesulitan, dan tingkat pembeda, melainkan juga segi-segi lain, seperti kecukupan waktu, kejelasan tulisan maupun perintah tes, dan lain sebagainya.
2)  Jenis Tes Berdasarkan Tahapan/Waktu Penyelenggaraan
Selanjutnya Anda diajak untuk memperhatikan jenis tes berdasar waktu penyelenggaraan tes, yang terbagi menjadi 4 yaitu:
a)  Tes Masuk (Entrance Test)
Tes masuk diselenggarakan sebelum dan menjelang suatu program pengajaran dimulai. Sama dengan tes seleksi, tes masuk diselenggarakan untuk menentukan apakah seorang calon dapat diterima sebagai peserta program pengajaran karena ia memiliki jenis dan kemampuan yang dipersyaratkan. Tes masuk  dirancang secara khusus dan disesuaikan dengan tujuan  program pengajaran. Semakin sesuai isi tes masuk itu dengan tujuan pokok program pengajaran, maka akan semakin tinggi tingkat relevansi serta efektivitas dari tes masuk tersebut.
b) Tes Formatif (Formative Test)
Tes formatif dilakukan pada saat program pengajaran sedang berlangsung (progress),  tujuannya untuk memperoleh informasi tentang jalannya pengajaran sampai  tahap tertentu. Informasi tersebut  penting untuk mengetahui apakah program pengajaran berjalan sesuai dengan format yang ditentukan sehingga dipertahankan atau program pembelajaran memerlukan perubahan atau penyesuaian, hasilnya berguna untuk memperbaiki strategi mengajar. Tes ini dilakukan secara periodic sepanjang rentang proses pembelajaran, materi tes dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran tiap pokok bahasan atau sub pokok materi.
c)  Tes Sumatif (Summative Test)
Kata dari “sumatif” adalah “sum” yang berarti “total obtained by adding together items, numbers or amounts”. Dengan demikian, tes sumatif diselenggarakan untuk mengetahui hasil pengajaran secara keseluruhan (total). Konsekuensi dari tes yang menekankan hasil pengajaran secara keseluruhan, maka item tes sumatif atau bahan cakupannya meliputi seluruh materi yang telah disampaikan.  Tes sumatif diberikan di akhir suatu pelajaran, atau  akhir semester. Hasilnya untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Tingkat keberhasilan dinyatakan dengan skor atau nilai, pemberian sertifikat, dan sejenisnya.
d)  Pra-tes dan Post-test
Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang siswa di awal program pengajaran, kadang-kadang diselenggarakan  pra-tes. Hasil pra-tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa pada awal program pengajaran. Tingkat kemampuan awal ini penting untuk menentukan sejauhmana kemajuan seorang siswa. Kemajuan yang dicapai bisa dilihat dari perbandingan hasil  pra-tes dengan hasil tes yang diselenggarakan di akhir program pengajaran (post-test).



3)  Jenis Tes Berdasarkan Cara Mengerjakan
Secara umum, tes dapat dikerjakan secara tertulis dan secara lisan. Selanjutnya, Saudara dapat mencermati pembahasan berikut ini.
a) Tes Tertulis
Tes tertulis adalah tes yang dilakukan  secara tertulis baik dalam hal soal maupun jawabannya, namun tes yang disampaikan secara lisan dan dikerjakan secara tertulis masih digolongkan ke dalam jenis tes tertulis. Sebaliknya, tes yang soalnya diberikan dalam bentuk tulisan sedangkan jawabannya berbentuk lisan tidak dapat dikategorikan ke dalam bentuk tes tertulis.
b) Tes Lisan
Pada tes lisan, baik pertanyaan maupun jawaban  (response) semuanya dalam bentuk lisan. Karenanya, tes lisan  relatif tidak memiliki rambu-rambu penyelenggaraan tes yang baku, karena itu, hasil dari tes lisan biasanya tidak menjadi informasi pokok tetapi pelengkap dari instrumen asesmen yang lain.
c) Tes Unjuk Kerja
Pada Tes ini peserta didik diminta untuk melakukan sesuatu sebagai  indikator pencapaian kompetensi yang berupa kemampuan psikomotor.
4)  Jenis Tes Berdasarkan Cara Penyusunan
Berdasarkan kriteria ini, tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) tes buatan guru dan (2) ter terstandar.
a)  Tes Buatan Guru (Teacher-made Test)
Anda tentu mengetahui tugas-tugas utama yang harus diemban oleh seorang guru. Untuk melakukan tugas evaluasi itu, seorang guru harus mengembangkan alat ukur, salah satunya tes. Tes yang dikembangkan sendiri oleh guru disebut tes buatan guru (teacher-made test). Jadi tes buatan guru adalah tes yang dirancang dan dipersiapkan oleh guru, tetap dengan mengacu pada karakteristik tes yang baik  dan dilakukan secara cermat, untuk tetap menjamin validitas maupun reliabilitasnya.
b)  Tes Terstandar (Standardized Test)
Tes terstandar adalah tes yang dikembangkan dengan mengikuti prosedur serta prinsip pengembangan tes secara ketat. Semua prosedur pengembangan tes dikuti sehingga ciri-ciri tes sebagai alat ukur yang baik senantiasa dapat dipenuhi. Dengan demikian, tingkat validitas, reliabilitas, kepraktisan, maupun daya beda sudah bukan menjadi masalah lagi. Bagaimana cara mengembangkan tes sebagai alat ukur yang baik, Saudara bisa membaca bagian lain dari Bahan Ajar ini.
5)  Jenis Tes Berdasarkan Bentuk Jawaban
Jika kita melihat bentuk jawaban yang diberikan oleh peserta tes, kita dapat membedakan tiga jenis tes, yaitu; (a) tes esei, (b) tes jawaban pendek, dan (c) tes obyektif.
Untuk lebih jelasnya, cobalah perhatikan bahasan berikut ini.
a)  Tes Esei (Essay-type Test)
Tes bentuk uraian adalah tes yang menuntut siswa mengorganisasikan gagasan-gagasan tentang apa yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakannya dalam bentuk tulisan. Keunggulan tes uraian, guru dapat mengukur kemampuan siswa dalam hal mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiri. Sedang keterbatasannya adalah cakupan materi pelajaran yang terbatas, waktu pemeriksaan jawaban yang lama, penskorannya cenderung subyektif dan umumnya
kurang handal dalam pengukuran.
b)  Tes Jawaban Pendek
Tes dapat digolongkan menjadi tes jawaban pendek jika peserta tes diminta menuangkan jawabannya bukan dalam bentuk esei, tetapi memberikan jawaban-jawaban pendek, dalam bentuk rangkaian kata-kata pendek, kata-kata lepas, maupun angka-angka. Termasuk ke dalam tes jenis ini adalah tes yang mewajibkan siswa untuk mengisi bagian yang kosong dari sebuah kalimat atau teks. Sehingga  diharapkan dapat memberikan jawabannya sesingkat mungkin.
c)  Tes Objektif
Tes objektif adalah tes yang keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab tes telah tersedia. Oleh karenanya sering pula disebut dengan istilah tes pilihan jawaban (selected response test). Butir soal telah mengandung kemungkinan   jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Menurut Subino (1987) perbedaan yang khas bentuk soal objektif dibanding dengan soal esei adalah tugas peserta tes (testee) dalam merespons tes. Pada tes objektif, tugas  testee adalah memanipulasikan data yang telah ada dalam butir soal. Oleh karenanya, tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Karena sifatnya yang objektif maka penskorannya dapat dilakukan dengan bantuan mesin. Soal ini tidak memberi peluang untuk memberikan penilaian yang bergradasi karena ia hanya mengenal benar dan salah. Soal tes objektif sangat bermanfaat untuk mengukur hasil belajar kognitif tingkat rendah. Hasil-hasil belajar kompleks seperti menciptakan dan mengorganisasikan gagasan kurang cocok diukur menggunakan soal bentuk ini. Soal objektif sangat bervariasi bentuknya. Variasi yang bisa dibuat dari soal objektif adalah benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, melengkapi dan jawaban singkat.




BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Tes secara sederhana dapat  diartikan sebagai  himpunan pertanyaan yang harus dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Jenis-jenis tes dapat dikelompokkan menjadi beberapa model klasifikasi yaitu: Pembagian jenis Tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan.  Jenis Tes berdasarkan waktu penyelenggaraan. Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan. Pembagian jenis Tes berdasarkan cara Penyusunan. Pembagian jenis Tes berdasarkan bentuk jawaban



DAFTAR PUSTAKA

Brookhart Susan M, Nitko J. Antony.(2007)Educational Assessment of Student. Fifth edition. New Jersey: Meril Prentice Hall.
Jonson David, W & Johson, Roger T.(2002). Meaningful assessment. Arlington Street Boston: Ally & Dacon A Pearson Education Company.
Subino.(1987) Konstruksi Dan Analisis Tes. Jakarta: Dit-Jen Dikti.
Stiggins,R.J.(1994). Student Centered Classroom Assessment. New York: Maxwell Macmillan International.
Syaifuddin,A.(2002). Test Prestasi. Yogyakarta.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar