TUGAS
ASESEMEN
“PENGERTIAN
DAN JENIS TES”
Dosen
Pengampu:
Rini
Sofiyanti S.Pd
Di Susun
Oleh:
Siti Maimuna (201210285)
PROGRAM
S1 FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ABDURACHMAN SALEH
SITUBONDO
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kita selalu panjatkan kehadirat Allah SWT.
Atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua sehingga penyusunan
makalah dengan judul “PENGERTIAN DAN
JENIS ASESMEN SEBAGAI INSTRUMEN ASESMEN” dapat terselesaikan tepat pada
waktunya. Shalawat serta salam selalu kita kirimkan kepada panutan dan tauladan
hidup kita, yakni nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa hidup kita ini dari
zaman kegelapan ke zaman terang-benderang.
Dalam penyusunan makalah ini. kami tidak dapat
menyelesaikan makalah ini tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih kepada Dosen mata kuliah
ASESMEN PEMBELAJARAN SD dan teman-teman yang telah mendukung pembuatan makalah
ini.
Sungguh merupakan suatu kebanggaan dari kami apabila makalah
ini dapat terpakai sesuai fungsinya, dan pembacanya dapat mengerti dengan jelas
apa yang dibahas didalamnya. Tidak lupa juga penulis menerima kritikan dan
saran yang membangun, yang sangat diharapkan demi memperbaiki pembuatan makalah
di kemudian hari.
Situbondo,27
Oktober 2013
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….….i
DAFTARISI……….……………………………...………….………………..……..ii
DAFTARISI……….……………………………...………….………………..……..ii
BAB
1
PENDAHULUAN………………………………………………………………....1
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………………………...1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………….1
1.3 Tujuan Masalah……………………………………………………………….1
PENDAHULUAN………………………………………………………………....1
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………………………...1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………….1
1.3 Tujuan Masalah……………………………………………………………….1
BAB
II
PEMBAHASAN…………………………………………………………………...2
2.1 Pengertian Tes………………………………………………………………...2
PEMBAHASAN…………………………………………………………………...2
2.1 Pengertian Tes………………………………………………………………...2
2.2 Jenis-jenis Tes……………………………………......……..……..……………...4
BAB
III
PENUTUP…………………………………………………………....……….…….…10
3.1
KESIMPULAN………………………………………………………………10
DAFTARPUSTAKA…...………………………………………………......………….….11
ii
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Setelah
kita mengetahui hakekat tes, yaitu
sebagai alat ukur, perlu kiranya kita membahas jenis-jenis tes. Perlu
kita bersama mengetahui bahwa para ahli dalam bidang tes tidak semuanya seragam
dalam mengklasifikasikan tes. Heaton (1988), misalnya, membagi jenis tes
menjadi 4 bagian utama, yaitu: (1) tes hasil belajar (achievement test), (2)
tes penguasaan (proficiency test), (3) tes bakat (aptitude test), dan(4) tes
diagnostik (diagnostic test). Sementara itu, Brown (2004) melengkapi satu lagi
jenis tes terhadap penggolongan yang
telah dilakukan oleh Heaton, yaitu tes penempatan (placement test). Nampaknya,
penggolongan jenis tes tersebut hanya mengacu kepada satu kriteria saja yaitu
tujuan penyelenggaraan tes. Saudara
diajak untuk mencermati pembagian jenis-jenis tes. Pembagian yang ia tawarkan
nampak lebih luas dan rinci dengan mengacu pada sejumlah criteria. Kriteria
yang dapat digunakan untuk membedakan jenis tes meliputi: 1) tujuan
penyelenggaraan, 2) tahapan/waktu penyelenggaraan, 3) cara mengerjakan, 4) cara
menyusun, 5) bentuk jawaban, 6) cara
penilaian, dan 7) acuan penilaian. Uraian tentang jenis tes berikut dilengkapi dengan uraian
mengenai arti, cakupan,ciri-ciri serta contohnya
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang ingin diajukan
penulis dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa
pengertian tes?
2. Apa
saja jenis-jenis tes sebagai instrument asesmen?
1.3 Tujuan Masalah
Adapun tujuan yang ingin dicapai
dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui dan memahami pengertian tes.
2. Untuk
mengetahui dan memahami jenis tes sebagai instrument asesmen.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Tes
Tes
secara sederhana dapat diartikan
sebagai himpunan pertanyaan yang harus
dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas
yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Dalam
kaitan dengan pembelajaran aspek tersebut adalah indikator pencapaian kompetensi. Tes berasal dari bahasa Perancis yaitu “testum”
yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia dari material lain
seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Kemudian diadopsi dalam psikologi
dan pendidikan untuk menjelaskan sebuah
instrumen yang dikembangkan untuk dapat melihat dan
mengukur
dan menemukan peserta Tes yang memenuhi
kriteria tertentu. Cronbach (dalam Azwar, 2005) mendefinisikan tes sebagai “a
systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with
the aid of a numerical scale or category system”. Menurut Ebster’s Collegiate
(dalam Arikunto, 1995), tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau
alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Dari dua definisi tersebut dan uraian lebih jauh tentang itu dapat ditarik
pengertian bahwa: (1) tes adalah prosedur pengukuran yang sengaja
dirancang secara sistematis, untuk mengukur atribut tertentu, dilakukan dengan proseduradministrasi dan pemberian
angka yang jelas dan spesifik, sehingga hasilnya relatif ajeg bila dilakukan
dalam kondisi yang relatif sama;
(2) tes pada umumnya berisi sampel perilaku, cakupan
butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya,
yang secara keseluruhan mungkin mustahil dapat tercakup dalam tes, sehingga tes
harus dapat mewakili kawasan (domain)
perilaku yang diukur, untuk itu perlu pembatasan yang jelas; (3) tes menghendaki
subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari dengan cara
menjawab atau mengerjakan tugas dalam
tes. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari
penyelenggaraan tes, karena tes memang
mengukur perilaku, sebagai manifestasi
atribut psikologis yang mau diukur.
Tes
pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel
perilaku tertentu. Dalam psikologi, tes dapat diklasifikasikan menjadi empat,
yaitu:
(1)
tes yang mengukur intelegensia umum yang dirancang untuk mengukur kemampuan
umum seseorang dalam suatu tugas; (2) tes yang mengukur kemampuan khusus atau
tes bakat yang dibuat untuk mengungkap kemampuan potensial dalam bidang
tertentu; (3) tes yang ditujukan untuk mengukur prestasi yang digunakan untuk
mengungkapkan kemampuan aktual sebagai hasil belajar; (4) tes yang mengungkap
aspek kepribadian (personality assesment) yang bertujuan mengungkap
karakteristik individual subjek dalam aspek yang diukur. Dengan melihat
penggolongan di atas, tes dalam
pembelajaran di kelas yang menjadi pembahasan ini adalah tes prestasi atau
hasil belajar. Tes sebagai alat ukur dapat menyediakan informasi-informasi
obyektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan
keputusan yang harus diambil pendidik
terhadap proses dan hasil belajar yang dilakukan siswa dapat dibagi menjadi
tiga kelompok besar yaitu:
a. Keputusan yang diambil pada pemulaan proses
pembelajaran
Penggunaan
tes sebagai dasar pengambilan keputusan pada permulaan proses pembelajaran
bermuara pada dua pertanyaan yang harus dijawab oleh pendidik sebelum memulai
proses pembelajaran yaitu; (1) sejauh manakah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan
yang harus dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran yang
berupa kemampuan awal yang diperlukan untuk mengikuti proses pembelajaran, (2) sejauh
manakah kemampuan dan keterampilan yang telah dicapai peserta didik terhadap
pembelajaran yang direncanakan. Keduanya akan menentukan keputusan guru dalam
merancang materi dan metode pembelajaran yang direncanakan.
b. Keputusan selama proses pembelajaran
Tes
dapat pula digunakan selama proses pembelajaran (tes formatif). Tes formatif
dapat diberikan baik dalam bentuk tes tulis maupun tes lisan, baik dengan
jawaban uraian maupun tes obyektif.
c. Keputusan-keputusan pada akhir pembelajaran
Tes
formatif yang diberikan guru pada akhir
pembelajaran ditujukan untuk mengetahui apakah kompetensi dasar yang dirumuskan
dalam program pembelajaran (satuan pembelajaran) telah tercapai atau belum.
Jadi, fungsi tes pada akhir pembelajaran adalah untuk mengukur daya serap siswa
pada materi pembelajaran. Sehingga guru dapat merencanakan tindak lanjut
terhadap rencana, proses, media, metode, dan suasana pembelajaran. Seperti
penilaian selama proses keputusan akhir pembelajaran dapat berasal dari
informasi tes obyektif atau tes subyektif.
2.2
Jenis-jenis Tes
Bila
kita membahas jenis-jenis tes, Anda akan dapat mencermati dalam lima jenis atau
cara pembagian yaitu:
1. Pembagian
jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan.
2. Jenis
tes berdasarkan waktu penyelenggaraan.
3. Pembagian
jenis tes berdasarkan cara mengerjakan.
4. Pembagian
jenis tes berdasarkan cara penyusunan.
5. Pembagian
jenis tes berdasarkan bentuk jawaban.
Uraian
selengkapnya adalah sebagai berikut:
1)
Jenis Tes Berdasarkan Tujuan Penyelenggaraan
a)
Tes Seleksi (Selection Test)
Anda
bisa memahami hakekat dari tes seleksi ini dari arti kata “seleksi” itu
sendiri, yaitu memilih. sederhana bukan? Jadi, tes seleksi diselenggarakan untuk memilih peserta guna diikut sertakan dalam kegiatan yang menuntut kemampuan tertentu.
Penentuan jenis kemampuan dan tingkat penguasaan pada tes seleksi, sepenuhnya tergantung pada
kebutuhan akan kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat mengikuti kegiatan. Dengan demikian, berdasarkan hasil tes seleksi, seseorang
dapat dinyatakan diterima atau berhasil dan tidak diterima atau tidak lolos
untuk mengikuti program kegiatan yang direncanakan. Sebagai contoh, jika kita
menyelenggarakan tes seleksi untuk pemandu wisata, maka akan lebih baik
menitikberatkan kemampuan berbicara dari
pada kemampuan menulis.
b)
Tes Penempatan (Placement Test)
adalah suatu keniscayaan bahwa kemampuan seseorang
tidaklah bisa sama. Sekelompok orang barangkali memiliki kemampuan lebih tinggi
dari pada kelompok lainnya. Permasalahan yang muncul adalah, bagaimanakah jika kemampuan siswa dalam satu
kelas relatif beragam? Hal ini akan bisa mempersulit jalannya proses pengajaran yang
Anda lakukan. Untuk itu perlu dilakukan tes penempatan. Tes penempatan umumnya
diselenggarakan menjelang dimulainya suatu program pengajaran, dengan maksud
untuk menempatkan seseorang pada kelompok yang sesuai dengan tingkat kemampuan
yang dimilikinya.
c)
Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes
hasil belajar tentu tidak asing lagi.
Brown (2004) memberikan pengertian tes hasil belajar merupakan “a test to see
how far students achieve materials addressed in a curriculum within a
particular time frame”. Hasil belajar yang diungkap lewat tes hasil belajar
dapat mengacu pada hasil pengajaran secara keseluruhan pada akhir
penyelenggaraan atau pada kurun waktu tertentu.
Sebagai tes yang memfokuskan pada hasil yang telah dapat dicapai oleh
suatu bentuk pengajaran, tes hasil belajar memiliki kaitan yang erat dengan apa
yang telah diajarkan (kurikulum). Kaitan itu terutama dalam hal isi tes. Isi
tes harus secara jelas mencerminkan isi pengajaran yang secara nyata telah
diselenggarakan.
d) Tes Diagnostik (Diagnostic Test)
Secara
etimologis, diagnostik diambil dari
bahasa Inggris “diagnostic”. Bentuk kata kerjanya adalah “to diagnose”, yang artinya “to determine the nature of
disease from observation of symptoms”. Mendiagnosis berarti melakukan observasi
terhadap penyakit tertentu, sebagai dasar menentukan macam atau jenis
penyakitnya. Jadi, tes diagnostik sengaja dirancang sebagai alat untuk
menemukan kesulitan belajar yang sedang dihadapi siswa. Hasil tes diagnostik
dapat digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pengajaran yang lebih sesuai
dengan kemampuan siswa sebenarnya, termasuk kesulitan-kesulitan belajarnya. Tes
ini dilakukan apabila diperoleh informasi bahwa sebagian besar peserta didik
gagal dalam mengikuti proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Hasil
tes diagnostik memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami
dan yang telah dipahami. Oleh karenanya, tes ini berisi materi yang dirasa
sulit oleh siswa, namun tingkat kesulitan tes ini cenderung rendah.
e)
Tes Uji Coba
Apabila
Saudara sebagai seorang guru pasti pernah mengembangkan tes. Tes yang
dikembangkan belum tentu memenuhi kualifikasi sebagai tes yang “baik” dalam arti luas. Untuk
mengetahui apakah tes yang dikembangkan bagus, perlu serangkaian uji coba,
untuk memperoleh informasi, tidak hanya tentang ciri-ciri tes yang penting,
seperti validitas, reliabilitas, tingkat kesulitan, dan tingkat pembeda,
melainkan juga segi-segi lain, seperti kecukupan waktu, kejelasan tulisan
maupun perintah tes, dan lain sebagainya.
2)
Jenis Tes Berdasarkan Tahapan/Waktu Penyelenggaraan
Selanjutnya
Anda diajak untuk memperhatikan jenis tes berdasar waktu penyelenggaraan tes,
yang terbagi menjadi 4 yaitu:
a) Tes Masuk (Entrance Test)
Tes
masuk diselenggarakan sebelum dan menjelang suatu program pengajaran dimulai.
Sama dengan tes seleksi, tes masuk diselenggarakan untuk menentukan apakah
seorang calon dapat diterima sebagai peserta program pengajaran karena ia
memiliki jenis dan kemampuan yang dipersyaratkan. Tes masuk dirancang secara khusus dan disesuaikan
dengan tujuan program pengajaran.
Semakin sesuai isi tes masuk itu dengan tujuan pokok program pengajaran, maka
akan semakin tinggi tingkat relevansi serta efektivitas dari tes masuk
tersebut.
b)
Tes Formatif (Formative Test)
Tes
formatif dilakukan pada saat program pengajaran sedang berlangsung
(progress), tujuannya untuk memperoleh
informasi tentang jalannya pengajaran sampai
tahap tertentu. Informasi tersebut
penting untuk mengetahui apakah program pengajaran berjalan sesuai
dengan format yang ditentukan sehingga dipertahankan atau program pembelajaran
memerlukan perubahan atau penyesuaian, hasilnya berguna untuk memperbaiki
strategi mengajar. Tes ini dilakukan secara periodic sepanjang rentang proses
pembelajaran, materi tes dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran tiap pokok bahasan
atau sub pokok materi.
c) Tes Sumatif (Summative Test)
Kata
dari “sumatif” adalah “sum” yang berarti “total obtained by adding together
items, numbers or amounts”. Dengan demikian, tes sumatif diselenggarakan untuk
mengetahui hasil pengajaran secara keseluruhan (total). Konsekuensi dari tes
yang menekankan hasil pengajaran secara keseluruhan, maka item tes sumatif atau
bahan cakupannya meliputi seluruh materi yang telah disampaikan. Tes sumatif diberikan di akhir suatu
pelajaran, atau akhir semester. Hasilnya
untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Tingkat keberhasilan
dinyatakan dengan skor atau nilai, pemberian sertifikat, dan sejenisnya.
d) Pra-tes dan Post-test
Untuk
mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang siswa di awal program pengajaran,
kadang-kadang diselenggarakan pra-tes.
Hasil pra-tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa pada awal
program pengajaran. Tingkat kemampuan awal ini penting untuk menentukan
sejauhmana kemajuan seorang siswa. Kemajuan yang dicapai bisa dilihat dari
perbandingan hasil pra-tes dengan hasil
tes yang diselenggarakan di akhir program pengajaran (post-test).
3)
Jenis Tes Berdasarkan Cara Mengerjakan
Secara
umum, tes dapat dikerjakan secara tertulis dan secara lisan. Selanjutnya,
Saudara dapat mencermati pembahasan berikut ini.
a)
Tes Tertulis
Tes
tertulis adalah tes yang dilakukan
secara tertulis baik dalam hal soal maupun jawabannya, namun tes yang
disampaikan secara lisan dan dikerjakan secara tertulis masih digolongkan ke
dalam jenis tes tertulis. Sebaliknya, tes yang soalnya diberikan dalam bentuk
tulisan sedangkan jawabannya berbentuk lisan tidak dapat dikategorikan ke dalam
bentuk tes tertulis.
b)
Tes Lisan
Pada
tes lisan, baik pertanyaan maupun jawaban
(response) semuanya dalam bentuk lisan. Karenanya, tes lisan relatif tidak memiliki rambu-rambu
penyelenggaraan tes yang baku, karena itu, hasil dari tes lisan biasanya tidak
menjadi informasi pokok tetapi pelengkap dari instrumen asesmen yang lain.
c)
Tes Unjuk Kerja
Pada
Tes ini peserta didik diminta untuk melakukan sesuatu sebagai indikator pencapaian kompetensi yang berupa
kemampuan psikomotor.
4) Jenis Tes Berdasarkan Cara Penyusunan
Berdasarkan
kriteria ini, tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) tes buatan guru dan
(2) ter terstandar.
a) Tes Buatan Guru (Teacher-made Test)
Anda
tentu mengetahui tugas-tugas utama yang harus diemban oleh seorang guru. Untuk
melakukan tugas evaluasi itu, seorang guru harus mengembangkan alat ukur, salah
satunya tes. Tes yang dikembangkan sendiri oleh guru disebut tes buatan guru
(teacher-made test). Jadi tes buatan guru adalah tes yang dirancang dan
dipersiapkan oleh guru, tetap dengan mengacu pada karakteristik tes yang
baik dan dilakukan secara cermat, untuk
tetap menjamin validitas maupun reliabilitasnya.
b) Tes Terstandar (Standardized Test)
Tes
terstandar adalah tes yang dikembangkan dengan mengikuti prosedur serta prinsip
pengembangan tes secara ketat. Semua prosedur pengembangan tes dikuti sehingga
ciri-ciri tes sebagai alat ukur yang baik senantiasa dapat dipenuhi. Dengan
demikian, tingkat validitas, reliabilitas, kepraktisan, maupun daya beda sudah
bukan menjadi masalah lagi. Bagaimana cara mengembangkan tes sebagai alat ukur
yang baik, Saudara bisa membaca bagian lain dari Bahan Ajar ini.
5)
Jenis Tes Berdasarkan Bentuk Jawaban
Jika
kita melihat bentuk jawaban yang diberikan oleh peserta tes, kita dapat
membedakan tiga jenis tes, yaitu; (a) tes esei, (b) tes jawaban pendek, dan (c)
tes obyektif.
Untuk
lebih jelasnya, cobalah perhatikan bahasan berikut ini.
a) Tes Esei (Essay-type Test)
Tes
bentuk uraian adalah tes yang menuntut siswa mengorganisasikan gagasan-gagasan
tentang apa yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakannya dalam bentuk
tulisan. Keunggulan tes uraian, guru dapat mengukur kemampuan siswa dalam hal
mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan
gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiri. Sedang
keterbatasannya adalah cakupan materi pelajaran yang terbatas, waktu
pemeriksaan jawaban yang lama, penskorannya cenderung subyektif dan umumnya
kurang
handal dalam pengukuran.
b) Tes Jawaban Pendek
Tes
dapat digolongkan menjadi tes jawaban pendek jika peserta tes diminta
menuangkan jawabannya bukan dalam bentuk esei, tetapi memberikan
jawaban-jawaban pendek, dalam bentuk rangkaian kata-kata pendek, kata-kata
lepas, maupun angka-angka. Termasuk ke dalam tes jenis ini adalah tes yang
mewajibkan siswa untuk mengisi bagian yang kosong dari sebuah kalimat atau
teks. Sehingga diharapkan dapat
memberikan jawabannya sesingkat mungkin.
c) Tes Objektif
Tes
objektif adalah tes yang keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab
tes telah tersedia. Oleh karenanya sering pula disebut dengan istilah tes
pilihan jawaban (selected response test). Butir soal telah mengandung
kemungkinan jawaban yang harus dipilih
atau dikerjakan oleh peserta tes. Menurut Subino (1987) perbedaan yang khas
bentuk soal objektif dibanding dengan soal esei adalah tugas peserta tes
(testee) dalam merespons tes. Pada tes objektif, tugas testee adalah memanipulasikan data yang telah
ada dalam butir soal. Oleh karenanya, tes objektif adalah tes yang dalam
pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Karena sifatnya yang objektif
maka penskorannya dapat dilakukan dengan bantuan mesin. Soal ini tidak memberi
peluang untuk memberikan penilaian yang bergradasi karena ia hanya mengenal
benar dan salah. Soal tes objektif sangat bermanfaat untuk mengukur hasil
belajar kognitif tingkat rendah. Hasil-hasil belajar kompleks seperti
menciptakan dan mengorganisasikan gagasan kurang cocok diukur menggunakan soal
bentuk ini. Soal objektif sangat bervariasi bentuknya. Variasi yang bisa dibuat
dari soal objektif adalah benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, melengkapi
dan jawaban singkat.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Tes
secara sederhana dapat diartikan
sebagai himpunan pertanyaan yang harus
dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas
yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek
tertentu dari peserta tes. Jenis-jenis tes dapat dikelompokkan menjadi beberapa
model klasifikasi yaitu: Pembagian jenis Tes berdasarkan tujuan
penyelenggaraan. Jenis Tes berdasarkan
waktu penyelenggaraan. Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan.
Pembagian jenis Tes berdasarkan cara Penyusunan. Pembagian jenis Tes
berdasarkan bentuk jawaban
DAFTAR PUSTAKA
Brookhart
Susan M, Nitko J. Antony.(2007)Educational Assessment of Student. Fifth
edition. New Jersey: Meril Prentice Hall.
Jonson
David, W & Johson, Roger T.(2002). Meaningful assessment. Arlington Street
Boston: Ally & Dacon A Pearson Education Company.
Subino.(1987)
Konstruksi Dan Analisis Tes. Jakarta: Dit-Jen Dikti.
Stiggins,R.J.(1994).
Student Centered Classroom Assessment. New York: Maxwell Macmillan
International.
Syaifuddin,A.(2002).
Test Prestasi. Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar